BAB 1 PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dewasa ini perusahaan menghadapi persaingan paling
sengit dalam banyak dasawarsa, dan
segalanya akan semakin sengit di tahun-tahun mendatang. Dalam pasar penjual
yang diwarnai oleh sedikitnya barang dan nyaris monopoli-perusahaan tidak
melakukan usaha khusus untuk memuaskan pelanggan. Produsen dan pengecer sedikit
sekali memperhatikan kepuasan pelanggan atas barang dan pelayanan. Penjual
nyaris tidak menghiraukan teori dan praktik pemasaran. Sebaliknya,dalam pasar
pembeli, pelanggan dapat memilih aneka produk dan jasa. Dalam pasar ini, bila
penjual tidak menyediakan produk dan jasa bermutu yang dapat diterima,
pelanggannya akan segera lari ketangan pesaing. Konsumen semakin terdidik dan
menuntut, serta harapan mutu terus naik akibat praktik oleh manufaktur dan
pengecer superior.
Agar sukses, atau sekedar bertahan, perusahaan perlu
falsafah baru. Agar unggul dipasar dewasa ini, perusahaan harus berpusat pada pelanggan (customer centered), mereka harus
memberikan nilai superior kepada pelanggan sasaran. Terlalu banyak perusahaan
yang berfikir bahwa memperoleh dan mempertahankan pelanggan adalah pekerjaan
bagian pemasaran atau penjualan. Akan tetapi perusahaan yang sukses terlalu
menyadari bahwa pemasaran tidak dapat melakukan tugas itu sendiri.
Pada makalah ini akan dibahas falsafah pemasaran
yang menciptakan nilai bagi pelanggan dan perusahaan dengan fokus pada
pelanggan. Beberapa pertanyaan penting lain dikupas: apa yang bernilai bagi
pelanggan dan kepuasan pelanggan? Bagaimana organisasi perusahaan yang unggul
melakukan organisasi untuk menciptakan dan menyerahkan nilai tinggi dari
kepuasan? Bagaimana perusahaan dapat mempertahankan pelanggan yang sudah ada
sekarang di samping mencari pelanggan baru? bagaimana perusahaan dapat
mempraktikkan pemasaran mutu terpadu?
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apakah definisi
dari nilai bagi pelanggan dan kepuasan pelanggan?
2.
Bagaimanakah
menyampaikan nilai bagi pelanggan dan kepuasan pelanggan?
3.
Apa yang
dilakukan perusahaan untuk mempertahankan pelanggan?
4.
Bagaimanakah
mengimplementasikan pemasaran mutu terpadu (total quality marketing)?
1.3
Tujuan dan Manfaat
1.3.1
Tujuan
1.
Untuk mendefinisikan
nilai bagi pelanggan dan kepuasan pelanggan.
2.
Untuk menyampaikan
nilai bagi pelanggan dan kepuasan pelanggan.
3.
Untuk mengetahui
apa yang dilakukan perusahaan untuk mempertahankan pelanggan.
4.
Untuk mengetahui
pengimplementasian pemasaran mutu terpadu(total quality marketing).
1.3.2
Manfaat
Untuk menambah pengetahuan, wawasan mahasiswa, dosen
maupun pihak lain bagaimana cara membangun hubungan dengan pelanggan lewat
kepuasan, nilai, dan mutu.
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Definisi Nilai bagi Pelanggan dan Kepuasan
Pelanggan
Lebih dari 35 tahun yang lalu, Peter Drucker telah
mengamati secara jelas, bahwa tugas utama perusahaan adalah “menciptakan
pelanggan.” Akan tetapi, menciptakan pelanggan mungkin tugas yang sulit.
Pelanggan dewasa ini menghadapi jajaran produk dan merek, harga, dan amat
banyak pemasok sebagai pilihan. perusahaan harus menjawab pertanyaan kunci:
bagaimana pelanggan memilih?
Jawabannya adalah bahwa pelanggan memilih tawaran
yang memberikan nilai paling banyak kepada mereka. Pelanggan memaksimalkan
nilai, dalam batas-batas biaya yang dicari serta pengetahuan, mobilitas, dan
pendapatan terbatas. Mereka membentuk harapan nilai dan bertindak berdasarkan
itu. Kemudian mereka membandingkan nilai sebenarnya yang mereka terima ketika
mengkonsumsi produk dengan nilai yang diharapkan, dan hal ini mempengaruhi
kepuasan dan tingkah laku membeli ulang.
A. Nilai Bagi Pelanggan
Kata nilai memiliki beberapa arti yang berbeda.
Valarie Zeithaml mengemukakan bahwa pelanggan menggunakan istilah nilai untuk
empat pengertian yang berbeda:
·
Nilai adalah
‘harga yang murah’. Untuk beberapa pelanggan harga yang paling murah adalah
nilai yang terbaik.
·
Nilai adalah
‘mendapatkan apa yang diiinginkan dari suatu produk atau jasa’.
·
Nilai adalah
‘kualitas yang didapatkan atas harga yang dibayar’.
·
Nilai adalah ‘
semua yang didapatkan atas semua pengorbanan yang telah diberikan’.
Perbedaan pandangan mengenai
nilai dapat ditangkap dalam sebuah definisi nilai. Nilai adalah persepsi pelanggan tentang keseimbangan antara manfaat
yang diterima dengan pengorbanan yang diberikan untuk mendapatkan manfaat
tersebut.
Konsumen membeli dari
perusahaan yang mereka percaya menawarkan nilai
bagi pelanggan (customer delivered value) tertinggi (perbedaan dari nilai
total pelanggan dan biaya total pelanggan). Nilai yang diserahkan kepada
pelanggan ini artinya penilain konsumen mengenai kapasitas produk secara
keseluruhan untuk memuaskan kebutuhannya. Perbedaan antara nilai total bagi
pelanggan dan biaya total pelanggan dari tawaran pemasaran. Penilaian ini
dilihat dari 4 sisi yaitu produk,
layanan, personel, dan citra.
Seperti pengamatan Adam
Smith lebih dari dua abad yang lalu,” Harga sebenarnya dari segala sesuatu
adalah susah-payah dan kesulitan untuk memperolehnya.” Biaya total pelanggan
juga mencakup biaya waktu energi, dan psikis yang diantisipasi. Perusahaan akan
mengevaluasi semua biaya ini bersama dengan biaya uang sehingga diperoleh biaya
perkiraan lengkap.
B. Kepuasan
Pelanggan
Konsumen membuat penilaian ada nilai yang ditawarkan
pemasaran dan mengambil keputusan membeli berdasarkan pada penilaian ini. Kepuasan
pelanggan ada suatu pembelian tergantung pada relative kinerja produk bagi
harapan pembeli. Seorang pelanggan mungkin mengalami berbagai tingkat kepuasan.
Tetapi bagaimana perusahaan membentuk harapan? harapan didasarkan pada
pengalaman pelanggan membeli di masa lalu., pendapat teman dan rekan, serta
informasi dan janji dari pemasar dan pesaingnya. Pemasar harus berhati-hati
menetapkan tingkat harapan yang tepat. Bila mereka menetapkan harapan terlalu
rendah, mereka mungkin memuaskan orang yang membeli tapi gagal menarik pembeli
dalam jumlah besar. Sebaliknya, bila mereka menaikkan harapan terlalu tinggi,
kemungkinan besar pembeli merasa tidak puas.
Meskipun demikian, beberapa perusahaan paling sukses
dewasa ini masih menaikkan harapan dan menyerahkan prestasi yang sesuai.
Perusahaan ini menggunakan kepuasan pelanggan total. Perusahaan yang sukses
dewasa ini, menelusuri harapan pelanggan, memahami kinerja perusahaan, dan
kepuasan pelanggan. Akan tetapi, pengukuran kepuasan pelanggan hanya berarti
dalam konteks persaingan. Walaupun berusaha menyerahkan kepuasan pelanggan yang
relative tinggi ketimbang pesaing, perusahaan yang berpusat pada pelanggan
tidak berusahan memaksimalkan kepuasan pelanggan.
Perusahaan menggunakan metode berikut ini untuk
mengukur berapa tinggi kepuasan pelanggan yang berhasil mereka ciptakan.
Sitem Keluhan Dan Saran
Organisasi yang berpusat pada pelanggan
menyederhanakan pelanggan menyampaikan saran atau keluhan. Restoran dan hotel
menyediakan formulir sehingga pelanggan hanya perlu memberi tanda apa yang
disukai dan tidak disukai. Rumah sakit menyediakan kotak saran dikoridor,
memberikan kartu komentar kepada pasien
yang akan pulang, dan mendorong pasien untuk menyampaikan keluhan. Beberapa
perusahaan yang berpusat pada pelanggan menyediakan nomor yang bebas pulsa
sehingga pelanggan dapat mengajukan saran, atau mengeluh. Sistem seperti ini
tidak hanya untuk menyelesaikan masalah, tetapi juga menyediakan banyak gagasan
yang baik bagi perusahaan untuk memperbaiki produk jasa.
Survey Kepuasan Pelanggan
Perusahaan yang responsive melakukan pengukuran
langsung atas kepuasan pelanggan dengan melakukan survey secara teratur. Mereka
mengirimkan kuisioner dan menelepon sampel dari pelanggan yang sudah ada untuk
mengetahui perasaan mereka mengenai beberapa aspek prestasi perusahaan. Mereka
juga melakukan survey pandangan pembeli mengenai prestasi pesaing.
Pembelanjaan Siluman
Cara lain yang bermanfaat untuk menilai kepuasan
pelanggan adalah dengan menyewa orang untuk berpura-pura sebagai pembeli guna
melaporkan pengalaman mereka membeli produk perusahaan dan produk pesaing.
“pembelanjaaan siluman” ini bahkan dapat menyajikan permasalahan spesifik untuk
menguji apakah karyawan perusahaan menangani dengan baik. Perusahaan tidak
harus menyewa pembelanja siluman, melainkan manajer sendiri juga harus keluar
dari kantor dari waktu kewaktu dan mengalami sendiri perlakuan sebagai
“pelanggan.”
Analisis Pelanggan Yang Hilang
Perusahaan harus melakukan kontak dengan pelanggan
yang berhenti lekakukan pembelian, atau yang beralih kepesaing, untuk
mempelajari kenapa hal ini terjadi. Ketika kehilangan pelanggan, IBM berusaha
mempelajari apa yang menjadi kegagalannya; apakah harga IBM terlalu tinggi,
pelayanan jelek atau produknya dibawah standar? Selain harus melakukan
wawancara alasan keluar, perusahaan juga harus memantau tingkat kehilangan
pelanggan.
Beberapa Peringatan Dalan Mengukur Kepuasan
Pelanggan
Kalau pelanggan mengungkapkan kepuasan mereka atas
beberapa unsure kinerja perusahaan, misalkan penyerahan barang, pengertian
penyerahan barang yang baik dapat beraneka rupa. Itu mungkin berarti penyerahan
barang sebelum waktunya, penyerahan tepat waktu, kelengkapan pesanan atau
sesuatu yang lain. namun, bila perusahaan mencoba mendefinisikan secara rinci,
pelanggan akan menghadapi daftar pertanyaan yang amat panjang.
2.2 Menyampaikan Nilai bagi Pelanggan dan Kepuasan
Pelanggan
A. Rantai Nilai
Michael Porter mengusulkan rantai nilai (value chain) sebagai alat untuk mengidentifikasi cara
menciptakan nilai bagi pelanggan yang lebih tinggi. Setiap perusahan terdiri
dari kumpulan aktivitas yang dilaksanakan untuk merancang, memproduksi,
memasarkan, menyerahkan, dan mendukung produk perusahaan. Rantai nilai memecah
perusahaan menjadi sembilan aktifitas menciptakan nilai dalam usaha untuk
memahami tingkah laku biaya dalam bisnis spesifik dan sumber potensial unutuk
membedakan diri dari pesaing. Kesembilan aktivitas menciptakan nilai termasuk
lima aktivitas utama dan empat aktivitas pendukung.
Aktivitas utama mencakup urutan pembawa material ke
dalam perusahaan (logistic penerima/inbound
logistic), mengoperasikannya(operation),
mengirimkan keluar(outbound logistic),
memasarkannya(marketing and sales),dan
memberikan jasa (service).aktivitas
pendukung terjadi dalam setiap aktivitas utama ini.
Sukses perusahaan bukan hanya tergantung pada
seberapa baik setiap bagian melaksanakan tugasnya, melainkan juga pada seberapa
baik aktifitas berbagai bagian dikoordinasikan. Dalam setiap kasus,
masing-masing bagian secara individual seolah-olah telah mendirikan tembok yang
menghalangi penyerahan layanan pelanggan yang bermutu. Untuk mengatasi masalah
ini, perusahaan harus lebih menekankan pada lancarnya manajemen proses bisnis
inti, sebagian besar meliputi input dan kerja sama dari berbagai bagian
fungsional. Proses bisnis inti antara lain:
·
Proses pengambangan produk : semua aktivitas yang termasuk dalam
mengidentifikasi, meriset, dan mengembangkan produk baru secara cepat, dengan
mutu tinggi, dan biaya yang wajar.
·
Proses manajemen sediaan : semua aktifitas yang termasuk dalam pengembangan
dan pengelolaan tingkat sediaan yang tepat dari bahan baku, barang setengah
jadi, dan barang jadi sehingga pasokan yang memadai tersedia sambil menghindari
biaya tinggi akibat sediaan berlebihan.
·
Proses pemesanan-sampai-pembayaran : semua aktivitas yang termasuk dalam menerima
pesanan, menyetujui, mengirimkan barang tepat waktu, dan menagih pembayaran.
·
Proses layanan pelanggan : semua aktivitas yang termasuk dalam usaha
mempermudah pelanggan untuk menghubungi pihak yang tepat dalam perusahaan untuk
mendapatkan layanan, jawaban, dan penyelesaian masalah.
B. Sistem
Penyampaian Nilai
Dewasa ini banyak perusahaan “bermitra” dengan
anggota lain dari rantai pasokan untuk memperbaiki kinerja system penyerahan
nilai bagi pelanggan (customer value
delivery chain) yaitu system yang
terdiri dari rantai nilai perusahaan dan pemasok, distributor, dan akhirnya
pelanggan yang bekerjasama untuk menyampaikan nilai kepada pelanggan.
Ketika berjuang agar lebih kuat dalam bersaing,
perusahaan beralih, secara ironis, ke kerja sama yang lebih besar. Perusahaan
cenderung memandang pemasok dan distributor sebagai pusat biaya, dan dalam
beberapa hal, sebagai musuh. Akan tetapi, dewasa ini mereka memilih mitra
secara hati-hati dan bekerjasama mencari strategi saling menguntungkan. Di
pasar dewasa ini, semakin banyak persaingan yang tidak lagi terjadi antara
pesaing individual. Persaingan, lebih dirasakan, antara system penyerahan nilai
yang diciptakan oleh pesaing.
Oleh karena itu, pemasaran tidak lagi dapat dianggap
sebagai bagian penjualan. Pandangan seperti itu hanya member tanggungjawab
merumuskan bauran pemasaran yang berorientasi pada promosi kepada bagian
pemasaran, tanpa peran berarti mengenai sifat-sifat produk, biaya, dan elemen
penting yang lain. berdasarkan pandangan baru, pemasaran bertanggung jawab
untuk merancang dan mengelola system penyerahan nilai superior untuk mencapai
segmen pelanggan sasaran. Manajer pemasaran dewasa ini harus berfikir tidak
hanya mengenai menjual produk hari ini melainkan juga mengenai bagaimana
merangsang pengembangan perbaikan produk, bagaimana bekerja secara aktif dengan
bagian lain dalam mengelola proses bisnis inti, serta bagaimana mejalin
kemitraan eksternal yang lebih baik.
2.3 Mempertahankan Pelanggan
Lebih
jauh dari menjalin hubungan lebih erat dengan mitranya dalam rantai pasokan,
perusahaan dewasa ini harus berusaha mengembangkan ikatan lebih kuat dan
loyalitas dengan pelanggan akhirnya.
A.
Biaya Kehilangan Pelanggan
Perusahaan harus mencermati tingkat pelanggan yang
lari dan mengambil langkah-langkah untuk menguranginya. Pertama, perusahaan
harus menetapkan dan mengukurvtingkat pelanggan yang masih bertahan. Kemudian,
perusahaan harus meneliti penyebeb larinya pelanggan dan menetapkan mana yang
dapat dikurangi atau dihilangkan. Perusahaan harus membuat distribusi frekuensi
yang menunukkan persentase pelanggan yang lari karena alasan yang berbeda.
Tidak banyak yang bisa dilakukan terhadap pelanggan yang pindah rumah, atau
pelanggan yang usahanya bangkrut. Tetapi banyak yang bisa dilakukan untuk
pelanggan yang lari karena produk jelek, atau harga terlalu tinggi.
Perusahaan dapat memperkirakan berapa laba yang
hilang kalau pelanggan lari yang
seharusnya dapat dicegah. Untuk pelanggan individual, ini sama berarti nilai
pelanggan seumur hidup. Untuk sekelompok pelanggan yang lari, sebuah perusahaan
transportasi menghitung kehilangan laba sebagai berikut: perusahaan itu
mempunyai 64.000 pelanggan. Lima persen dari pelanggannya lari (3.200
pelanggan) tahun ini karena pelayanan yang jelek. Pelanggan yang lari rata-rata
memberikan penghasilan $40.000. oleh karena itu, perusahaan kehilangan
pendapatan 3.200 x $40.000 = $128.000.0000. kalau dari pendapatan itu terdapat
laba 10 persen, perusahaan kehilangan $12.800.000 dalam satu tahun yang sebenarnya
tidak perlu terjadi.
Perusahan perlu membayangkan berapa besar biaya
untuk mengurangi tingkat pelanggan yang lari. Bila kehilangan itu lebih kecil
ketimbang laba yang hilang, perusahaan harus mengeluarkan biaya, tadi untuk
mengurangi larinya pelanggan.
B.
Kebutuhan untuk Mempertahankan Pelanggan
Dewasa ini, perusahaan menonjolkan berjuang keras
untuk mempertahankan pelanggan mereka. Banyak pasar yang sudah jenuh, dan tidak
banyak pelanggan baru yang memasuki kebanyakan kategori. Persaingan bertambah
sengit, dan biaya menarik pelanggan baru semakin tinggi. Dalam pasar ini, biaya
menarik pelanggan baru mungkin lima kali lipat biaya untuk mempertahankan
pelanggan saat ini tetap gembira. Biaya pemasaran ofensif biasanya lebih tinggi
ketimbang pemasaran defensive, karena memerlukan banyaj usaha dan biaya untuk
mambujuk pelanggan yang puas, lari dari pesaing.
Sayangnya, teori dan praktik pemasaran klasik
memusatkan pada seni menarik pelanggan baru ketimbang mempertahankan yang sudah
ada. Penekanan adalah menciptakan transaksi ketimbang hubungan. Diskusi
difokuskan pada aktivitas prapenjualan dan aktivitas penjualan ketimbang pada
aktivitas pasca penjualan. Akan tetapi dewasa ini lebih banyak perusahaan
mengakui pentingnya mempertahankan pelanggan yang sudah ada. Menurut salah satu
laporan, dengan mengurangi larinya pelanggan hanya sebesar 5 persen, perusahaan
dapat memperbaiki laba antara 25 sampai 85%. Akan tetapi, sayangnya kebanyakan
system akunting perusahaan tidak dapat menunjukkan nilai dari pelanggan yang
loyal.
Jadi, walaupun pemasaran yang lebih mutakhir
memfokuskan kepada merumuskan bauran pemasaran yang akan menciptakan penjualan
dan pelanggan baru, lini terdepan pertahanan perusahaan terletak pada
mempertahankan pelanggan. Dan pendekatan terbaik untuk mempertahankan pelanggan
adalah menyerahkan kepuasan dan nilai yang tinggi kepada pelanggan yang
menghasilkan loyalitas kuat dari pelanggan.
C.
Pemasaran yang Akrab dengan Pelanggan
Pemasaran yang akrab dengan pelanggan (relationship
marketing) meliputi hal menciptakan, mempertahankan, dan mendorong hubungna
erat dengan pelanggan dan pihak berkepentingan yang lain. semakin lama
pemasaran semakin bergeser dari fokus pada transaksi individual kea rah
berfokus pada menjalin hubungan bernilai tinggi membangun jaringan memberikan
kepuasan. Kita dapat membedakab tima tingkat hubungan yang dapat dibentuk
dengan pelanggan yang telah membeli produk perusahaan, seperti mobil atau mesin
industry:
·
Dasar.
Tenaga penjual perusahaan menjual produk tetapi tidak melakukan tindak lanjut
dalam bentuk apapun.
·
Reaktif.
Tenaga penjual menelepon pelanggan beberapa saat setelah penjualan untuk
mengetahui apakah produknya sesuai dengan harapan pelanggan.
·
Proaktif.
Wiraniaga atau karyawan lain menelepon pelanggan dari waktu kewaktu dengan
member saran mengenai perbaikan penggunaan produk atau produk baru yang
membantu.
·
Kemitraan.
Perusahaan bekerja sama terus-menerus dengan pelanggan dan dengan pelanggan
lain untuk menemukan cara menyerahkan nilai lebih baik.
Pendekatan untuk membina nilai bagi pelanggan:
a.
Manfaat Keuangan
Pendekatan
membangun nilai bagi pelanggan terutama mengandalkan penambahan manfaat
keuangan bagi hubungan dengan pelanggan. Misalnya, perusahaan penerbangan
menawarkan program sering erbang ( frequent
– flyer), hotel memberikan kamar dengan standar lebih tinggi kepada tam yang sering menginap, toko
swalayan memberikan potongan harga.
b. Manfaat Sosial
Mempengaruhi
pemilihan produk oleh pelanggan, program seprti ini dan insentif keuangan
lainnya dapat dengan mudah ditiru oleh pesaing dan mungkin gagal membedakan
seca permanen apa yang ditawarkan perusahaan. Disini karyawan perusahaan
meningkatkan ikatan sosial mereka dengan pelanggan dengan jalan meneliti
kebutuhan dan keingina individual pelanggan kemudian menyesuaikan produk dan
jasa dentgan kebutuhan dan keinginan itu. Misalnya , karyawan hotel ritch
crlton memperlakukan palanggan sebagai individual, bukan anggota pasar masal
yang mana dan wajahnya tidak dikenal. Mereka menyiapkan data pilihan spesifik
dari tamunya dalam basis data, yang dapat diakses dari semua hotel rangkaian
ritz di seluruh dunia. Untuk menjalin hubungan lebih baik dengan pelanggannya,
selama musim panas tahun 1994 dan seluruh pemilik satrun, yang berjumlah hampir
tujuh ratus ribu ke acara santrun pulang kandang, di kawasan pabriknya di
spring hill tennese pada program dua hari itu diisi dengan acara keluarga untuk
keliling pabrik, dan aktvitas fisik menantang yang dirancang untuk membina
keperayaan dan semangat tim. Menunjukkan bahwa kami memperlukan pelanggan kami
berbeda dibanding perusahaan mobil yang lain.
c.
Ikatan Struktural
Pendekatan
ketiga untuk menjalin hubungan erat dengan pelanggan adalah menambah ikatan
structural di samping manfaat keuangan dan social. Misalnya, seorang pemasar
mungkin menyediakan peralatan khusus atau hubungan computer yang membantu
mereka mengatur pesanan, pembayaran, atau sediaan. Pemasaran yang akrab dengan
pelanggan berarti bahwa organisasi harus memfokuskan pada mengelola pelanggan
disamping produk. Pada saat yang sama, walaupun banyakn perusahaan beralih sama
sekali kepemasaran yang akrab dengan pelanggan, perusahaan tidak mengiginkan
hubungan dengan setiap pelanggan. Sesungguhnya, selalu ada pelanggan yang tidak
disukai oleh setiap perusahaan. Tujuannya adalha menerapkan pelanggan mana yang
dapat dilayani perusahaan paling efektif relative terhadap pesaing. Perusahaan
harus menentukan segmen dan pelanggan khusus mana yang mendatangkan laba.
D.
Pelanggan yang Mendatangkan Laba
Pada dasarnya, pemasaran adalah seni menarik dan
mempertahankan pelanggan yang mendatangkan laba. Akan tetapi perusahaan sering
menyadari 20-40% pelanggannya tidak mendatangkan laba. Lebih lanjut banyak
perusahaan melaporkan bahwa pelanggan yang paling banyak mendatangkan laba
bukan yang terbesar, melainkan pelanggan yang berukuran sedang. Pelanggan
terbesar menuntut pelayanan yang lebih banyak dan menerima diskon lebih besar,
oleh karena itu mengurangi tingkat laba perusahaan. Pelanggan kecil membayar
harga tanpa potongan dan menerima pelayanan kurang, tetapi biaya transaksi
dengan pelanggan kecil mengurangi laba. Pada umumna pelanggan berukuran sedang
yang membayar harga dengan potongan kecil dan menerima pelayanan baik paling
banyak mendatangkan laba.
Sebuah perusahaan harusnya tidak mencoba mengejar
dan memuaskan setiap usulan spontan pelanggan. Beberapa organisasi berusaha
menyediakan apapun dan segala yang disarankan pelanggan. Akan tetapi, walaupun
sering member saran yang bagus,pelanggan juga menyarankan tindakan yang tidak
dapat dilakukan perusahaan dengan mendatangkan laba. Fokus pada pasar bukan
berarti secara membabi buta mengikuti saran seperti itu. Sebaliknya, itu
berarti memilih dengan cermat p;elanggan mana yang akan dilayani dan manfaat
spesifik mana yang akan diberikaan atau diabaikan.
Apa yang membuat pelanggan mendatangkan laba?
Pelanggan yang mendatangkan laba adalah orang, atau perusahaan yang
pembeliannya dalam kurun waktu tertentu melebihi, dalam jumlah yang dapat
diterima, biaya yangdikeluarkan perusahaan akan menarik, menjual, dan melayani
pelanggan itu. Define ini menekankan pendapatan dan nilai seumur hidup, bukan
laba dari suatu transaksi.
2.4 Mengimplementasikan Pemasaran Mutu Terpadu
Kepuasan pelanggan dan kemampuan perusahaan mencetak
laba berkaitan erat dengan mutu produk dan jasa. Mutu yang lebih tinggi
menyebabkan kepuasan pelanggan semakin besar, sementara pada saat yang sama
mendorong harga yang lebih tinggi dan sering biaya yang lebih rendah. Oleh
karena itu, program perbaaikan mutu biasanya menaikkan profitabilitas. Hasil
penelitian Dampak laba Dari Strategi Pemasaran yang terkenal menunujukkan
korelasi yang tinggi antara mutu relative produk dan profitabilitas.
Tugas memperbaiki mutu produk dan jasa seharusnya
menjadi prioritas utama perusahaan. Banyak perusahaan jepang yang sukses
menggebrak di seluruh dunia merupakan hasil dari peningkatan mutu produk mereka
yang luar biasa. Kebanyakan pelanggan tidak dapat lagi menerima mutu jelek atau
pas-pasan. Perubahan dewasa ini tidak memiliki selaiin menerima konsep mutu
bila mereka masih ingin bertahan, jangankan memperoleh laba. Menurut pemimpin
GE, John F. Welch, Jr.: “mutu adalah jaminan kami terbaik atas kesetiaan
pelanggan, pertahanan kami paling kuat melawan pesaing luar negri, dan
satu-satunya jalan nenuju pertumbuhan dan mendapat laba.”
A. Total Quality
Management
Total quality manajemen(TQM) melanda ruang rapat
direksi di tahun 1980-an. Banyak perusahaan mengambil bahasa TQM tetapi tidak
mengambil substansinya. Perusahaan lain memendang TQM sebagai penyelesaian bagi
semua masalah perusahaan. Masih ada lagi perusahaan lain terobsesi dengan
prinsip-prinsip TQM yang didefinisikan secara sempit dan kehilangan fokus dari
perhatian lebih luas terhadap nilai dan kepuasan pelanggan. Akibatnya, banyak
program TQM yang mulai tahun 1980-an gagal, menyebabkan pandangan sinis
terhadap TQM. Walaupun begitu, kalau diterapkan dalam konteks menciptakan
kepuasan pelanggan tidak lagi menggunakan label TQM, bagi kebanyakan perusahaan
kelas atas mutu yang digerakkan oleh pelanggan telah menjadi cara melakukan
bisnis. Mereka menerapkan pengertian “return on quality(ROQ=kembali pada
mutu),” dan mereka memastikan bahwa mutu yang mereka tawarkan adalah mutu yang
diinginkan pelanggan. Mutu ini, pada gilirannya, meningkatkan penjualan dan laba.
Mutu terpadu adalah kunci terhadap menciptakan nilai
dan kepuasan bagi pelanggan. Sama seperti pemasaran adalah tugas setiap orang,
mutu terpadu juga tugas setiap orang.
B. Peran
Pemasaran dalam Mutu Terpadu
Manajemen
pemasaran memiliki dua tanggung jawab dalam perusahaan yang berpusat pada mutu.
Pertama, manajemen pemasaran harus berpartisipasi dalam merumuskan strategi dan
kebijakan yang dirancang untuk membantu keberhasilan perusahaan lewat
keunggulan mutu terpadu. Kedua, pemasaran harus menyampaikan mutu pemasaran
disamping mutu produksi. Pemasaran harus melaksanakan setiap aktivitas
pemasaran-riset pemasaran, pelatihan penjualan, periklanan, jasa pelanggan, dan
lain-lain—dengan standar yang tinggi.
Pemasar memainkkan peran penting untuk menbantu perusahaan
mereka menetapkan dan menyampaikkan barnag dan jasa bermutu tinggi kepada
pelanggan sasaran. Pertama, pemasar bertanggung jawab untuk menganali kebutuhan
dan tuntutan pelanggan dengan tepat dan untuk menyampaian harapan pelanggan
tadi kepada perancang produk. Kedua, pemasar harus memastikan bahwa pesanan
pelanggan dipenuhi dengan tepat dan tepat waktu, serta harus memastikan bahwa
pelanggan menerima instruksi, pelatihan, dan bantuan teknik yang memadai untuk
menggunakan produ tersebut. Ketiga, pemasar harus tetap berhubungan dengan
pelanggan setelah penjualan dan menyampaikan ide pelanggan untuk perbaikan
produk dan pelayanan kepada bagian yang tepat dalam perusahaan.
Ironisnya, setelah salah satu telah menemukan bahwa
staf pemasaran lebih bertanggung jawab batas keluhan pelanggan ketimbang bagian
lain(35%). Krsalahan pemasaran meliputi kasus-kasus dimana armada penjual
memesan produk berciri khusus bagi pelanggan tetapi tidak member tahu bagian
manufaktur untuk mengadakan perubahan; dengan demikian pemrosesan pesanan yang
tidak tepat menyebabkan produk yang salah dibuat dan dikirimkan; dan dengan
demikian keluhan pelanggan tidak diselesaikan secara memadai.
Mutu terpadu berasal dari dasar pemikiran berikut
ini mengenai perbaikan mutu:
1.
Mutu terletak dimata
pelanggan
Mutu
harus dimulai dengan kebutuhan pelanggan dan berakhir dengan persepsi
pelanggan.
2.
Mutu tidsk boleh
hanya tercermin
Leonard
A. Morgan dari GE berkata :”kami tidak hanya memikirkan mutu produk, melainkan
juga mutu iklan, pelayanan, literature produk, penyerahan, dan dukungan purna
jual.”
3.
Mutu memrlukan
komitmen karyawan
Mutu
hanya dapat idsampaikan oleh perusahaan yang seluruh karyawannya memberikan komitmen
terhadap mutu dan bermotivasi dan terlatih untuk menyampaikannya.
4.
Mutu memerlukan
mitra bermutu tinggi
Perusahaan
yangb digerakkan oleh mutu harus mencari dan menyesuaikan dirinya dengan mutu
tinggi pemasok dan distributor.
5.
Program mutu
tidak dapat menyelamatkan produk yang jelek
Pontiac
Fiero meluncurkan program mutu, tetapi karena mobil itu tidak memiliki mesin
yang baik untuk mendukung citra kinerjanya, program mutu tidak dapat
menyelamatkan mobil itu.
6.
Mutu selalu
dapat diperbaiki
Cara
terbaik untuk memperbaiki mutu adalah membandingkan kinerja perusahaan dengan
pesaing “terbaik di kelasnya” atau kinerja yang terbaik dalam industry lain,
berusaha keras untuk menyamai atau bahkan melewatinya.
7.
Perbaikan mutu
tekadang membutuhkan lompatan yang besar
Perusahaan
kadang-kadnag dapat memperoleh sedikit perbaikan dengan bekerja lebih keras. Tetapi
perbaikan besar memerlukan bpenyesuaian baru dan menuntut untuk bekerja lebih
keras.
8.
Mutu tidak
membutuhkan biaya yang lebih besar
Manajer
pernah berpendapat bahwa mencapai mutu lebih baik akan membutuhkan biaya lebih
banyak dan menurunkan produksi. Tetapi memperbaiki mutu membutuhkan belajar
cara “melakukan hal tepat sejak awal.” Mutu bukan pengawasan melekat; melainkan
perancangan melekat. Melakukan hal yang tepat sejak awal mengurangi biaya
penyelamatan, perbaikan, dan perancangan ulang, belum termasuk hilangnya
kamauan biak pelanggan.
9.
Mutu diperlukan
tetapi mungkin belum memadai
Mutu
lebih tinggi mungkin belum memastikan keunggulan yang akan berhasil, terutama
kalau semua pesaing meningkatkan mutu sampai tingkat yang kira-kira sama.
BAB 3 PENUTUP
Kesimpulan
Perusahaan
perlu memahami apa yang menentukan nilai bagi pelanggan dan kepuasan pelanggan.
Nilai yang disampiakna kepada pelanggan adalah perbedaan antara nilai total
bagi pelanggan dan biaya total pelanggan. Pelanggan biasanya akan memilih
tawaran yang memaksimalkan nilai yang disampaikan.kepuasan pelanggan adalah
hasil yang dirasakan oleh pembeli yang mengalami kinerja sebuah perusahaan yang
sesuai dengan harapannya. Pelanggan merasa puas kalau harapan mereka terpenuhi.
Pelanggan yang puas akan cenderung tetap loyal lebih lama, membeli lebih
banyak, kurang peka terhadap perubahan harga, dan pembicaraannya menguntungkan
perusahaan.
Untuk
menyampaikan nilai bagi pelanggan dan kepuasan pelanggan, perusahaan harus
mengelola rangkaian nilai mereka sendiri dan seluruh system penyampaian nilai
dengan cara yang berpusat pada pelanggan. Sasaran perusahaan bukan hanya
mendapatkan pelanggan baru, tetapi lebih penting, memepertahankan pelanggan.
Biaya amat besar diakibatkan dari hilangnya pelanggan. Pemasaran yang akrab
dengan pelanggan menyediakan kunci untuk mempertahankan pelanggan. Untuk itu
perlu memberikan manfaat keuangan dan social disamping structural yang terkait
dengan pelanggan.
Total
quality management telah menjadi pendekatan utama untuk memberikan kepuasan
pelanggan dan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Perusahaan harus
memahami bagaimana pelanggan mereka memandang mutu dan tingkat mutu yang mereka
harapkan. Menyampaikan mutu membutuhkan komitmen manajemen total dan karyawan disamping
system pengukuran dan penghargaan.
DAFTAR PUSTAKA
Kotler,
Philip dan Gary Amstrong. Dasar-dasar
pemasaran jilid 2. Jakarta: Prenhallindo, 1998.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar